Thank you. I hone please come over when you have time to my blog

Rabu, 11 November 2009

Dari Antologi Puisi Bhs.Banjar & Terjmhn dlm.Bhs.Indons : BURINIK Karya Arsyad Indradi

Bakantan

Amun nyawa manusia tahu arti kahidupan nyawa musti tahu
Bahua nagri ini mangasihsayangi buhannya
Mambari’i rumah nang manghijau
Gunung riam guntung nang damai
Berabad tahun hidup tentram

Amun nyawa manusia nang baadap nyawa musti tahu
Di higa batubatu guha
Buhannya méndam wan marista
Malihat parigal nyawa manabangi rumah buhannya
Mambulangkir gunung riam wan guntung

Amun nyawa manusia nang bahatinurani nyawa musti tahu
Buhannya bapuluh tahun hidup
Barumah ranggay
Bagunung bariam baguntung si’im

Amun nyawa manusia nang baparikamanusiaan
Maka nyawa kada sampaihati
Manggariti buhannya
Manangkapi buhannya

Tapi nyawa manusia nang paling hina
Kerna kada suah tahu
Buhanya nangitu mascot nagri ini

Bbaru, 2007

Indonesianya :

Bakantan

Jika kau manusia tahu arti kehidupan kau akan tahu
Betapa negeri ini mengasihsayangi mereka
Memberi rumah yang menghijau
Gunung lembah riam yang damai
Baabad tahun hidup tantram

Jika kau manusia yang beradap kau akan tahu
Di balik batubatu gua
Mereka tercenung dan miris
Melihat kau menebangi rumah mereka
Membredel gunung lembah dan riam

Jika kau manusia yang berhatinurani kau akan tahu
Mereka berpuluh tahun hidup
Berumah ranggas
Bergunung berlembah beriam lengang

Jika kau manusia yang berprikemanusiaan
Maka kau tak akan
Memburu mereka
Menculik mereka

Tetapi kau manusia yang paling hina
Karena tak pernah tahu
Mereka adalah mascot negeri ini

Bbaru,2007

**** bakantan = sejenis kera berhidung panjang
lambang fauna Kalimantan Selatn


Saékong Bakantan Bini

Saékor bakantan bini
Di sasala jaruji wasi matanya luka
Manjanaki kawankawannya di batubatu di munggumunggu
Manjanakinya lawan muhamuha sayung

Saékong bakantan bini
Mamaluk pisit anaknya nang manyambunyiakan muhanya
ka awahnya
lantaran takutan kada sakira


Saékong bakantan bini
Tamsil kuitan nang paling kuitan
Waktu urangurang itu manggariti
Paharatan wan kawanannya bukahan manyalamatakan diri
Anaknya talapas matan géndongannya lalu gugur ka tanah
Lalu babulik maambili anaknya
Tahutahu jaring manangkapnya

Saékong bakantan bini
Anaknya bapiruhut di awaknya
Matanya luka
Meitihi banuanya nang sasain jauh
Waktu kurungan itu dibawa orang

Saékong bakantan bini
Di sasala jaruji wasi
Banyumata darah titik
Gugur kasisigan anaknya

Bbaru, 2007

Indonesianya :

Seekor Bakantan Betina

Seekor bakantan betina
Di balik jeruji besi matanya luka
Menatatap kawankawannya di batubatu dan bukitbukit
Menatapnya dengan wajahwajah miris

Seekor bakantan betina
Memeluk erat anaknya yang membenamkan wajahnya
ketubuhnya
lantaran takut yang sangat menikamnya

Seekor bakantan betina
Sosok ibu yang teramat ibu
Ketika orangorang itu memburu
Sedang bersama kawankawanannya berlarian panik menyelamatkan diri
Anaknya terlepas dari gendongannya dan jatuh ke tanah
Sang ibu kembali mengambil anaknya
Tibatiba jaring menyergapnya

Seekor bakantan betina
Anaknya melekat erat di tubuhnya
Matanya luka
Menatap habitatnya yang semakin jauh
Ketika kerangkeng itu dibawa pergi

Seekor bakantan betina
Di balik jeruji besi
Airmata darah titik
Jatuh keisak anaknya

Bbaru, 2007

Rabu, 01 April 2009

Sultanah


Dari : Fahmi Fakih

Bagi yang mengira tingginya derajat dan kemuliaan hanyalah milik lelaki, kiranya layak untuk menyimak cerita ini. Cerita dimana cinta dan kasih sayang, sikap adil serta kearifan, bersipadu dalam diri seorang ibu.
Alkisah, malam itu udara kota Mekkah begitu dingin, angin tajam terasa perih menggerus kulit. Seorang lelaki tua, seorang sufi yang masyhur namanya, Abdul Qadir Jailani, berjalan sendirian memasuki gerbang kota yang gelap menuju Ka’bah, rumah Tuhan itu. Dalam hati, Abdul Qadir membatin dengan penuh rasa syukur. “Ya Allah, terima kasih atas cuaca baik yang telah Kau datangkan untuk menemaniku bersujud kepadaMu.”
Beginilah sifat dan perilaku manusia yang hatinya telah dipenuhi oleh cinta. Situasi yang jelas-jelas tidak bersahabat, yang seringkali kita mengeluh karenanya, di hadapan orang seperti ini malah diterima dengan kegembiraan yang tulus sebagai karunia.
Setelah melewati gerbang kota, Abdul Qadir tiba-tiba dikejutkan oleh satu sinar terang yang terlihat berputaran mengelilingi Ka’bah. Abdul Qadir tidak bisa memastikan benda apakah yang ada di sana, karena jarak antara dirinya dan Ka’bah masih jauh dari langkah. Namun perlahan, seiring tapak kakinya yang semakin dekat, Abdul Qadir tahu, bahwa sosok putih itu bukanlah sebuah benda, melainkan manusia!
Keterkejutan Abdul Qadir kiranya tak hanya sampai di sini. Yang lebih membuat sufi besar ini takjub, adalah kenyataan bahwa manusia yang dilihatnya itu seorang perempuan setengah baya dengan sebelah kaki yang buntung pula! Sisa darah masih terlihat jelas di lukanya. Perempuan itu berthawaf - ibadah dengan cara mengelilingi Ka’bah sambil berdo’a - terlihat begitu khusuk hingga tidak merasakan kehadiran seseorang yang berdiri takjub memandanginya. Abdul Qadir seketika mengurungkan niatnya untuk berthawaf dan memilih menunggui perempuan itu menyelesaikan thawafnya.
Setelah perempuan itu selesai dengan thawafnya, Abdul Qadir lalu datang menghampiri sambil memberi salam padanya. Perempuan itu berpaling seraya menjawab salam sang guru. Abdul Qadir kemudian bertanya. “Siapakah engkau wahai perempuan salehah, dari mana asalmu, dan apa yang menyebabkan sebelah kakimu buntung?” Perempuan itu lalu bercerita tentang dirinya, dan sebab yang menjadikan kebuntungan kakinya.
“Wahai Abdul Qadir, saya tinggal di luar kota, arah utara dari Baitullah ini. Saya seorang janda dengan anak yang masih kecil. Beberapa hari lalu, saya dirundung perasaan rindu yang sangat untuk datang ke rumah suci ini. Namun, karena anak saya selalu menangis jika malam tiba, rasa rindu itu hanya bisa saya simpan dalam hati. Sebab walau bagaimanapun, wahai Abdul Qadir, saya tidak mungkin meninggalkan anak saya dalam keadaan menangis, meski untuk sebuah rindu yang bersangatan. Dan saya yakin, Tuhan pasti tidak akan berkenan menerima ibadah yang saya kerjakan dengan menelantarkan anak saya.
Sampai tadi malam selepas menunaikan salat isya, anak saya kembali menangis. Bahkan kali ini tangisannya begitu keras melolong-lolong, seakan ada sesuatu yang menakutkan dalam penglihatannya. Dengan hati sedih, saya lalu mengambil anak itu dari tilam tipis yang kami punya. Saya pangku ia, saya coba menenangkannya dengan syair puji-pujian yang dulu sering dinyanyikan almarhumah ibu saya ketika saya masih kanak-kanak.
Saya terus bernyanyi. Saya terus bernyanyi dengan syair puji-pujian itu sambil mengusapi kepala anak saya. Perlahan-lahan, tangisan itu mereda, mata itu mulai redup, dan nafas yang mulanya tersengal itu, mulai tenang kembali. Anak saya tertidur, anak saya tertidur di atas paha saya. Dan bersamaan dengan itu pula rasa rindu saya semakin tak tertahankan. Laksana gunung, ia terus-menerus menghimpit perasaan saya. Saya ingin pergi mengejawantahkan rindu saya, saya ingin secepatnya menghadap Tuhan, saya ingin berkhidmat di rumah suciNya. Tapi bagaimana dengan anak saya yang sedang tidur?
Dalam kebingungan itu, saya teringat pedang almarhum suami saya yang tergantung di dinding tempat saya bersandar duduk. Jaraknya hanya sejengkal dari kepala saya. Tanpa pikir panjang, lalu saya ambil pedang itu dan saya potong paha yang jadi bantal tidur anak saya! Wahai Abdul Qadir, kamu tahu apa yang saya rasakan ketika pedang itu mulai memotong paha saya? Sedikitpun saya tidak merasakan sakit! Yang ada hanya perasaan lega karena dengan demikian saya bisa pergi menunaikan kewajiban saya kepada Tuhan dengan tetap bertanggung jawab atas kewajiban saya sebagai seorang ibu kepada anaknya.”
Mendengar pengakuan ini, diceritakan, ruh Syeikh Abdul Qadir Jailani naik ke Lauhul Mahfudh - suatu tempat di langit ketujuh di mana nama-nama dan peristiwa tercatat. Akan tetapi sesampainya di sana, Abdul Qadir tidak menemukan nama perempuan itu. Ini sangat aneh bagi Abdul Qadir. Sebab menurut kebiasaannya, setiap orang yang dipilih Tuhan menjadi walinya di muka bumi, nama mereka pasti tercatat di Lauhul Mahfudh!
Belum lagi selesai rasa heran atas kenyataan ganjil yang ditemuinya, ketika ruh itu kembali ke jasadnya, sebelum Abdul Qadir menanyakannya, perempuan itu, ibu yang teramat penyayang itu, sudah mendahului Abdul Qadir dengan perkataan. “Wahai Abdul Qadir, engkau tidak perlu bersusahpayah mencari tahu namaku ke Lauhul Mahfudh. Namaku Sultanah. Dan Tuhan telah menuliskan namaku bersanding dengan para nabiNya di Ummul Kitab, tempat yang lebih tinggi dari Lauhul Mahfudh.”
Setelah mengatakan ini, ibu itu pun pamit, kembali pulang ke rumahnya. Pulang kepada anak tercinta yang tidur lelap di atas potongan pahanya. Tak lama kemudian meneteslah airmata Abdul Qadir, tak kuasa menahan perasaan hatinya yang bahagia karena telah dipertemukan dengan perempuan mulia seperti Sultanah.

Karang Menjangan, 17 Maret 2006
Fahmi Faqih

Kamis, 19 Maret 2009

Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah


Oleh: Mahmud Jauhari Ali

Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.

Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.

Pengajaran sastra mencakup ketiga genre sastra, yakni prosa fiksi, puisi, dan drama. Dalam pengaplikasiannya, ketiganya disintesiskan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Hal itu berlangsung hingga pada tahap evaluasi.

Dalam pengajaran sastra itu, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal itu kita pandang perlu, karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra.

Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pembelajaan sastra. Lebih dari itu, kita menginginkan outcome yang bagus. Contoh, proses belajar-mengajar terjadi dan akhirnya siswa memiliki pengetahuan tentang sastra. Banyak orang beranggapan bahwa contoh itu telah selesai. Padahal, dalam contoh itu hanya sampai pada output. Kita menginginkan siswa di lapangan dapat mengapresiasi, menganalisis, dan juga dapat memproduksi karya sastra sebagai outcome dalam pengajaran sastra di sekolah.

Selama ini, pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang diapit dinding kelas. Hasilnya, daya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal. Misalnya, ketika siswa mendapatkan tugas membuat puisi berkenaan dengan alam. Namun, guru yang bersangkutan tidak mengajak mereka ke alam terbuka. Padahal di ruang tertutup dinding kelas, kurang mendukung dalam menumbuhkembangkan daya imajinasi dan kreasi mereka dalam proses penciptaan puisi.

Itu merupakan salah satu problematika dalam pengajaran sastra di sekolah. Seharusnya, guru mengajak siswa keluar, ke alam terbuka dan membantu mereka dalam proses penciptaan karya sastra.

Problematika yang lain, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat mengusahakan karya sastra siswa dimuat di media massa, dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio.

Hal terakhir ini sangat bagus dalam menumbuhkembangkan potensi sastra yang ada dalam diri siswa. Mereka akan tertantang untuk membuat dan memublikasikan karya sastra mereka secara luas dan kontinyu. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar guru bahasa dan sastra tidak menjadi contoh sebagai orang yang aktif membuat dan memublikasikan karya sastra di media massa, dalam buku sastra, dan media elektronik.

Selain itu, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga sangat kurang memperkenalkan sastrawan Kalimantan Selatan kepada siswa. Oleh karena itu, wajar jika sebagian besar siswa tidak mengenal sastrawan Kalimantan Selatan. Padahal, biodata dan karya sastrawan Kalimantan Selatan merupakan pengetahuan sastra yang harus dimiliki siswa di tiap jenjang pendidikan di sekolah. Seharusnya, guru bahasa dan sastra tidak hanya memperkenalkan sastrawan dari Pulau Jawa, Sumatera, atau dari pulau lainnya kepada siswa.

Perlu kita ketahui, bahwa sebagian sastrawan Kalimantan Selatan juga sudah menjadi sastrawan nasional di Indonesia. Sebut saja dua contohnya, Jamal T Suryanata dan Arsyad Indradi. Karya sastrawan Kalimantan Selatan pun layak menjadi bahan pelajaran sastra di tiap jenjang pendidikan di provinsi ini.

Dengan demikian, siswa juga dapat membuat karya sastra berbahasa Banjar karena sastrawan Kalimantan Selatan juga ada yang menggunakan Bahasa Banjar dalam berkarya sastra. Bahasa Banjar pun akhirnya bertambah lestari. Problematika yang ketiga itu juga harus segera diatasi, agar pengajaran sastra di sekolah dapat berlangsung secara baik dan benar.

Hal yang tidak kalah memprihatinkannya dalam pengajaran sastra di provinsi ini, adalah berkenaan dengan sastra daerah Kalimantan Selatan. Banyak guru bahasa dan sastra yang kurang menyinggung apalagi membelajarkan sastra daerah Kalimantan Selatan, seperti mamanda, lamut, dan madihin kepada siswa. Padahal sastra daerah Kalimantan Selatan perlu sekali diajarkan dengan porsi yang memadai di semua sekolah. Hal itu sangat bagus dalam rangka melestarikan khazanah kekayaan sastra dan bahasa Banjar di provinsi ini. Problematika keempat itu merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Sastra daerah Kalimantan Selatan seharusnya diajarkan oleh guru bahasa dan sastra kepada siswa.

Kini, saatnya guru bahasa dan sastra di sekolah mengatasi problematika pengajaran sastra seperti paparan di atas. Hal itu guna kemajuan sastra di provinsi kita. Bagaimana menurut Anda?

Pengurus Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar
Terbit di Banjarmasin Post, Senin, 2 Februari 2009 |

Selasa, 10 Maret 2009

"Kalalatu" Ekspresi Arsyad Indradi Dlm.Intrinsik Puisi


Oleh : Noor Hana

Bahasa lisan selalu dituntun oleh pengujar atau pembicaranya. Sedangkan sebuah teks tertulis memiliki maknanya sendiri setelah dipublikasikan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu pembicaraan lisan maka maksud pembicara yang belum jelas dapat dipertegas dengan mengajukan pertanyaan kepada pembicara tersebut. Sebaliknya, sebuah teks, dalam hal ini puisi, tidak lagi sepenuhnya tergantung pada penjelasan yang diberikan oleh penyair tetapi tergantung pada tafsir pembaca atas puisi tersebut.
Antologi Puisi “Kalalatu” karya Arsyad Indradi yang kental dengan nuansa tanah Banjar ini mengajak saya untuk menjelajahinya baik dari situasi bahasa, tema, bahasa puisi mau pun bentuk puisi. Baca selanjutnya klik disini,-

Sabtu, 07 Maret 2009

Situs Baru Saya

Harapan saya Anda dapat juga berkunjung ke situs saya yang baru dan mohon saran dan masukkannya. Klik http://arsyadindradi.net Terima kasih. A.Indradi ***

Rabu, 04 Maret 2009

Aruh Blogger 09


Bulan Maret 2009 mendatang Blogger Kalsel Kayuh Baimbai bekerja sama dengan Speedy Telkom akan mengadakan “ Aruh Blogger 09 “ yakni Ajang Terbuka Bagi Blogger dan Masyarakat Kalimantan Selatan dengan beberapa kegiatan lomba :
• Posting Contest
• Photo Contest
• Blogger Action Week
• Blogger Gathering

Hadiahnya ? Wow Jutaan Rupiah ! Jangan ketinggalan ayo daftar !!!!!!!!!
Tempat mendaftar dan petunjuk lainnya klik situs www.aruhblogger.com

Salam blogger
Arsyad Indradi

Jumat, 06 Februari 2009

" Pemilu, Janji dan Nasib Kita 5 Tahun ke Depan "

Membaca artikel di atas oleh http://sailakotabaru.blogspot.com sungguh sangat menarik. Dan timbul pemikiran saya untak memberikan tanggapan.berupa tulisan kecil ini. ( Agar pengunjung dapat membaca artikal di atas klik saja pada situs di atas)
Sebenarnya kita punya parlemen seperti dalam UUD 1945 segenap perangkatnya. Namun inilah buah si malakama bagi rakyat Indonesia. Dan buah si malakama inilah yang menjadikan penderitaan rakyat yang tidak pernah berkesudahan. Memilih, berbuah kekecewaan karena yang dipilih tidak betul-betul melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya setelah terpilih. Tidak memilih, maka ia tidak menjadi warga negara yang baik, bahkan MUI mempatwakan haram. Dalam hal ini seyogyanyalah bagi caleg-caleg intropeksi pada dirinya sendiri dan menyadari sepenuhnya apakah ia layak dan betul - betul sanggup mengemban amanat penderitaan rakyat. Dan pihak KPU harus benar-benar selektif dengan kereteria dan persyaratan yang ketat untuk meloloskan seorang caleg. Seorang caleg bukan seseorang yang memiliki banyak “ iming-iming “ dan “ uang pelicin “. Tetapi punya “ Visi dan Misi “ realistis sebagai seorang negarawan untuk bangsa dan Negara. Dipihak lain adalah rakyat sendiri. Rakyat hendaknya sudah tidak bodoh lagi untuk menentukan pilihannya. Rakyat sudah pintar membaca apakah layak atau tidak siapa – siapa figur yang terpampang baik di Poster, spanduk atau pun di Baliho dengan slogan - slogannya.
Seorang caleg yang bertitel dari perguruan tinggi atau caleg yang berpakaian agama. tidak jadi jaminan yang mutlak, tetapi titel berkepribadian yang luhur, jujur, berjiwa semangat membangun, penuh dedikasi, bertanggung jawab adalah pangkal utama untuk bangsa dan negara. Seorang legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah manusia yang sadar dan tahu apa kehendak rakyat, bangsa dan negara ini. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terang bagi kita semua. Amin.*** Arsyad Indradi.